ENGLISHEN
Home Feature Mimpi Besar Kak Na, Ketua PKK Aceh, untuk Pemberdayaan UMKM dan Masyarakat

Mimpi Besar Kak Na, Ketua PKK Aceh, untuk Pemberdayaan UMKM dan Masyarakat

Marlina Usman, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh yang akrab disapa Kak Na, berbagi visi besar pemberdayaan masyarakat dan UMKM di Aceh. Simak gagasan uniknya.

Mimpi Besar Kak Na, Ketua PKK Aceh, untuk Pemberdayaan UMKM dan Masyarakat
Share

Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Usman atau akrab disapa Kak Na, berbagi visi inspiratif mengenai pembangunan Aceh melalui pemberdayaan masyarakat dan UMKM. Dalam pertemuan santai pada Minggu malam, 19 Juli 2026, di Pango, Banda Aceh, Kak Na menyoroti pentingnya peran PKK sebagai motor penggerak nyata hingga tingkat gampong.

Kesederhanaan di Kediaman Pribadi Gubernur

Kunjungan tim Dialeksis ke kediaman pribadi Gubernur Aceh di Pango, Banda Aceh, disambut suasana tenang. Hanya beberapa petugas keamanan terlihat di gerbang, menunjukkan lingkungan bersahaja.

Setelah mendapat izin, tim disambut hangat oleh Marlina Usman, First Lady Aceh yang dikenal sebagai Kak Na. Ia tampil apa adanya, dengan busana sederhana tanpa kesan glamor.

Senyum dan sapaan ramahnya segera menciptakan suasana akrab.

“Silahkan. Piyoh ilee beh, kupi teungoh di peugot,” ucap Kak Na sembari menjabat tangan dan mempersilakan tamunya duduk.

Di ruang tamu, tersaji kudapan ringan seperti kopi, makanan kecil, dan kue sepet, penganan tradisional Aceh. Penyajian bersahaja ini menjadi pemantik percakapan yang hangat.

Di tengah obrolan, listrik tiba-tiba padam, membuat ruangan gelap gulita. Tim Dialeksis menggunakan senter HP sebagai penerang, namun insiden ini tidak mengubah suasana santai.

Kak Na justru menanggapi pemadaman listrik itu dengan senyum ringan dan tawa.

“Nyan hai, di rumoh gubernur pih lampu ek padam. Kiban bak rumoh rakyat,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Kalimat sederhana ini menggambarkan pandangannya yang merakyat, bahwa rumah gubernur pun merasakan hal yang sama seperti rumah rakyat saat listrik padam.

Visi Pemberdayaan PKK untuk Aceh

Di balik kepribadiannya yang sederhana, tersimpan gagasan-gagasan besar dari Marlina Usman tentang masa depan Aceh. Percakapan bergeser pada perannya strategis sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, topik yang membuat semangat Kak Na terlihat kuat.

Nada bicaranya lebih berenergi saat membahas potensi PKK sebagai motor penggerak pemberdayaan masyarakat hingga gampong. Salah satu gagasan utamanya adalah menghadirkan produk-produk unggulan UMKM dari seluruh kabupaten dan kota di Aceh sebagai identitas daerah.

Ide inovatif ini diwujudkannya melalui gorden ruang adat di Pendopo Aceh. Menurutnya, gorden tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap interior.

Lebih dari itu, benda tersebut dapat menjadi etalase kebudayaan dan karya masyarakat Aceh yang berharga. Ia menjelaskan bagaimana gorden akan merepresentasikan keragaman produk UMKM.

“Jadi, ketika ada tamu-tamu yang datang berkunjung, mereka dapat melihat seluruh produk UMKM kita yang merupakan representasi dari daerah masing-masing. Prinsipnya, gorden tersebut adalah representasi produk UMKM kita yang ada di 23 kabupaten/kota di Aceh,” tuturnya.

Bagi Kak Na, setiap daerah di Aceh memiliki kekuatan dan identitas unik yang layak diperkenalkan kepada dunia. Ruang-ruang strategis di Aceh harus dimanfaatkan sebagai panggung untuk memperlihatkan karya masyarakatnya.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa ia memandang PKK bukan sekadar organisasi seremonial. Di bawah arahannya, PKK ingin diarahkan menjadi wadah konkret yang mendorong ekonomi keluarga, memperkuat UMKM, sekaligus menjaga identitas budaya Aceh.

Pentingnya PKK Turun Langsung ke Lapangan

Komitmen kuat Kak Na juga terlihat dari harapannya agar seluruh struktur PKK di daerah dapat lebih aktif turun langsung ke lapangan. Ia berpendapat bahwa organisasi sebesar PKK tidak seharusnya hanya berfokus pada agenda administratif.

PKK harus hadir di tengah masyarakat untuk mendengarkan, melihat, dan memahami langsung berbagai persoalan warga.

“Keaktifan PKK di daerah sangat penting untuk memahami apa yang menjadi kendala masyarakat di daerah,” kata Kak Na.

Baginya, solusi efektif untuk permasalahan masyarakat tidak akan lahir hanya dari balik meja kerja. Diperlukan kedekatan dengan warga agar program yang dirancang menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Belajar dari Pengalaman Bencana Aceh

Pandangan Marlina Usman mengenai pentingnya kedekatan dengan masyarakat muncul dari pengalaman nyata. Ia pernah merasakan langsung perjuangan masyarakat saat menghadapi bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Pada saat itu, Kak Na memilih turun langsung ke lokasi-lokasi terdampak. Ia menyusuri kawasan terendam banjir dan mendengarkan keluhan warga.

Ia juga memastikan bantuan menjangkau mereka yang membutuhkan di tengah kesulitan. Di tengah genangan air dan cuaca tidak bersahabat, ia menyaksikan sendiri potret perjuangan masyarakat.

Ia melihat bagaimana para ibu berusaha menyelamatkan kebutuhan keluarga, anak-anak bertahan di pengungsian, dan semangat gotong royong warga. Pengalaman ini menguatkan keyakinannya bahwa pembangunan harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Ini menegaskan bahwa program harus relevan dan berdampak langsung.

Penutup

Pertemuan malam itu berakhir dengan suasana hangat dan akrab, tanpa kesan formal antara tuan rumah dan tamu. Namun, kesan membekas adalah tekad kuat di balik sosok Marlina Usman yang sederhana dan bersahaja.

Ia ingin menjadikan PKK sebagai salah satu instrumen kunci pembangunan Aceh yang inklusif dan berkelanjutan. Dari pemikiran dan pandangannya, terlihat jelas keinginan Kak Na agar pembangunan Aceh tidak hanya terwujud dalam angka-angka statistik, tetapi hadir dalam tindakan nyata hingga pelosok gampong.

Share

DMCA.com Protection Status

Kanal

© 2019 - 2026 | PT. Express Persada Linuhung. All Right Reserved