ENGLISHEN
Home Feature Melacak Alasan di Balik Dominasi Hantu Perempuan dalam Kisah Horor Indonesia

Melacak Alasan di Balik Dominasi Hantu Perempuan dalam Kisah Horor Indonesia

Artikel ini mengupas alasan di balik dominasi sosok hantu perempuan dalam film horor Indonesia, mengaitkannya dengan isu kekerasan seksual dan kriminalisasi korban yang tak kunjung usai.

Melacak Alasan di Balik Dominasi Hantu Perempuan dalam Kisah Horor Indonesia
Share

HARIANEXPRESS – Sebagian besar sosok hantu dalam film horor Indonesia seringkali digambarkan sebagai perempuan, seperti yang terlihat dalam film populer “Sundel Bolong” dan “Pengabdi Setan”. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari ketidakadilan yang dialami perempuan akibat kekerasan seksual dan kriminalisasi korban.

Hantu perempuan diyakini menjadi representasi dari kebebasan serta keadilan yang baru bisa mereka dapatkan setelah kematian, menjadi suara-suara terbungkam yang menuntut balas atas penderitaan di masa hidup.

Menguak Alasan Dominasi Hantu Perempuan dalam Kisah Horor

Dalam industri film horor Indonesia, tidak asing lagi bagi penonton untuk menjumpai karakter hantu yang berjenis kelamin perempuan.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan apakah dominasi tersebut hanya sekadar kebetulan ataukah memiliki makna yang lebih dalam terkait isu-isu sosial.

Menurut Raisa Agnia Rahma, seorang mahasiswi S1 Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dominasi ini bisa jadi merupakan representasi dari ketidakadilan dan kekerasan yang dialami perempuan.

Ia berpendapat bahwa kebebasan dan keadilan seringkali baru didapatkan oleh perempuan setelah kematian mereka.

Kekerasan Seksual dan Kriminalisasi Korban: Akar Masalah

Salah satu akar permasalahan yang mengemuka adalah isu kekerasan berbasis gender terhadap perempuan (KBGtP) serta kriminalisasi yang kerap menimpa korban.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada tahun 2026 melaporkan data yang mengkhawatirkan.

Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP), jumlah ini diperkirakan menjadi yang terbanyak dalam satu dekade terakhir.

Parahnya, di antara kasus-kasus tersebut, ada korban pelecehan fisik yang justru harus menghadapi jerat hukum karena melakukan protes.

Salah satu contohnya adalah staf honorer sekolah yang sempat mendekam di penjara lantaran melaporkan bukti rekaman pelecehan verbal yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Kasus-kasus semacam ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana perempuan bisa menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami.

Kisah Tragis dalam Film Horor sebagai Cerminan

Beberapa film horor Indonesia telah menggambarkan dengan jelas kaitan antara penderitaan perempuan dan kemunculan mereka sebagai hantu.

Film “Si Manis Jembatan Ancol” mengisahkan seorang perempuan yang mengalami perkosaan lalu dibunuh, kemudian jasadnya dibuang di dekat jembatan.

Sebelum menjadi hantu, Si Manis harus menderita akibat kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang menimpanya.

Kisah “Sundel Bolong” juga menceritakan seorang mantan pelacur yang diperkosa beramai-ramai oleh beberapa laki-laki.

Peristiwa itu mengakibatkannya hamil dan depresi berat, yang akhirnya mendorongnya untuk bunuh diri.

Arwahnya yang tidak dapat menerima takdirnya kemudian bergentayangan untuk membalaskan dendamnya kepada para laki-laki yang telah menyakitinya.

Selain itu, pada tahun 2017, Joko Anwar merilis film “Pengabdi Setan” yang sangat populer.

Film tersebut mengisahkan seorang ibu yang begitu terobsesi untuk memiliki anak sehingga ia memilih mengikuti sekte pengabdi setan demi mewujudkan keinginannya.

Implikasi Kebebasan dan Keadilan dari Hantu Perempuan

Cerita-cerita dari film horor tersebut mengindikasikan bahwa perempuan dapat menjadi sosok yang lebih kuat dan dominan saat mereka menjadi hantu, dibandingkan dengan ketika masih hidup sebagai manusia.

Hal ini selaras dengan pandangan Pratiwi (2018) yang menyatakan bahwa dominasi perempuan sebagai hantu dalam film horor Indonesia memiliki makna mendalam.

Sosok hantu perempuan seringkali digambarkan memiliki kekuatan dan kebebasan untuk melakukan balas dendam terhadap orang-orang yang telah menyakitinya.

Sifat-sifat ini terbentuk dari pengalaman kekerasan fisik dan seksual yang menyakitkan serta merugikan mereka selama hidup.

Kekuatan yang didapatkan setelah kematian ini merupakan realisasi dari kebebasan yang tidak pernah mereka raih semasa hidup.

Mungkin saja, arwah gentayangan para hantu perempuan ini merupakan simbol dari suara-suara yang selama ini terbungkam, yang baru bisa menuntut keadilan setelah mereka meninggal dan menjadi hantu.

Melati (2019) dalam karyanya menyebutkan bahwa hantu adalah anggapan dan perwujudan dari suatu hal yang belum selesai.

Lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa hantu-hantu perempuan di Indonesia merupakan hasil dari tragedi-tragedi ketidakadilan yang telah terpendam begitu lama.

Hantu Perempuan: Refleksi Realitas Sosial yang Belum Sembuh

Pada akhirnya, dominasi kisah atau film horor yang menampilkan tokoh perempuan sebagai hantu bukanlah semata-mata hiburan atau cerita fiktif.

Fenomena ini bisa jadi merupakan pengingat sekaligus realitas sosial yang menunjukkan bahwa luka akibat kekerasan seksual dan kriminalisasi korban belum sepenuhnya sembuh di masyarakat.

Selama korban masih dibungkam dan keadilan belum menemukan wujudnya, hantu-hantu perempuan tersebut akan terus bergentayangan dan menuntut balas dendam.

Kisah mereka menjadi pengingat abadi akan perjuangan yang belum usai untuk mencapai kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.

Share
Related Articles
Empat Perempuan Indonesia Berperan Penting dalam Gelaran Piala Dunia 2026
FeatureLifestyle

Empat Perempuan Indonesia Berperan Penting dalam Gelaran Piala Dunia 2026

Empat perempuan Indonesia, Welah Hatta, Mita, Nurul, dan Angelia, ambil peran penting...

Sejarah Baru: Destry Damayanti Perempuan Pertama Pimpin Bank Sentral
EconomyFeature

Sejarah Baru: Destry Damayanti Perempuan Pertama Pimpin Bank Sentral

Destry Damayanti resmi ditunjuk sebagai Penjabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, mencatatkan sejarah...

Mimpi Besar Kak Na, Ketua PKK Aceh, untuk Pemberdayaan UMKM dan Masyarakat
Feature

Mimpi Besar Kak Na, Ketua PKK Aceh, untuk Pemberdayaan UMKM dan Masyarakat

Marlina Usman, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh yang akrab disapa Kak Na,...


DMCA.com Protection Status

Kanal

© 2019 - 2026 | PT. Express Persada Linuhung. All Right Reserved