HARIANEXPRESS – Raden Ajeng Kartini, pahlawan nasional emansipasi wanita, berjuang untuk kesetaraan pendidikan dan hak berpendapat. Semangatnya menginspirasi perempuan Indonesia melalui kata-kata bijak.
Latar Belakang Perjuangan Kartini
Lahir 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Kartini menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) sejak 1885. Diskriminasi di ELS memicu semangat belajarnya.
Lulus 1892 dan dipingit, ia tetap membaca serta berkorespondensi dengan J.H Abendanon, menyuarakan ketidakadilan.
Setelah wafat 17 September 1903, gagasannya dibukukan oleh J.H. Abendanon menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duis-ternis tot Licht).
Inspirasi dari Kata Bijak Kartini
Tujuh kata bijak Kartini dari museumkartinirembang.id menyemangati perempuan Indonesia.
1. “Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia adalah menundukkan diri sendiri. Paham lama yang sudah turun temurun, tiada dapat sebentar saja disisikan akan menggantinya dengan paham baru. Berkuasa paham yang lama itu, oleh karena masih dihormati orang seluruh negeri, tetapi tumbuhan muda yang segar itu tentunya akan menang jua.”
2. “Dan siapakah yang banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu. Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu, karena haribaan ibu itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali.”
3. “Saya tahu, jalan yang saya tempuh itu sulit, penuh onak dan ranjau. Jalan itu melalui batu karang yang tajam dan licin, jalan itu masih belum dibuat. Dan andaikan saya tidak beruntung dapat mencapai tujuan terakhir, andaikan saya jatuh di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia, karena bagaimanapun jalannya telah dirintis dan saya telah ikut membangun jalan itu yang menuju kebebasan dan kemerdekaan wanita Bumiputera.”
4. “Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbullah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah.”
5. “Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbullah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah.”
6. “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya turut membantu mengadakan jalan menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”
7. “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”