HARIANEXPRESS – Di tengah rutinitas yang padat, memiliki waktu untuk diri sendiri dapat hadir dalam bentuk yang sederhana. Acha Septriasa memilih bersepeda saat berlibur di Bali, menyusuri suasana pedesaan Tampaksiring hingga mengakhiri perjalanan dengan sarapan ditemani panorama Gunung Batur.
Ada banyak cara menikmati waktu untuk diri sendiri. Sebagian perempuan mungkin memilih bersantai, membaca buku, menikmati perawatan tubuh, atau sekadar menjauh sejenak dari rutinitas. Bagi Acha Septriasa, salah satu caranya adalah tetap bergerak sambil menikmati perjalanan.
Saat menghabiskan waktu liburan di Bali, Acha memilih bersepeda mengelilingi sejumlah kawasan. Perjalanannya membawanya melewati persawahan, pura, suasana pedesaan, hingga sebuah kafe di kawasan Kintamani.
Aktivitas sederhana tersebut menghadirkan gambaran menarik tentang bagaimana waktu luang bisa dinikmati dengan cara yang lebih personal—tidak terburu-buru, tetap aktif, sekaligus memberi ruang untuk menikmati lingkungan sekitar.
Menikmati Waktu untuk Diri Sendiri dengan Cara Aktif
Bagi Acha, bersepeda bukan aktivitas yang sepenuhnya baru.
Ia disebut sudah terbiasa menempuh perjalanan dengan sepeda, bahkan kerap mengisi akhir pekannya di Sydney, Australia, dengan aktivitas tersebut. Kebiasaan itu tetap ia bawa ketika sedang berada di Bali.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa me time tidak harus selalu identik dengan berdiam diri.
Ada perempuan yang justru merasa lebih nyaman ketika tubuh tetap bergerak, menikmati udara luar, dan memiliki kesempatan menghabiskan beberapa jam bersama pikirannya sendiri.
Yang terpenting bukan mengikuti bentuk self-care orang lain, tetapi menemukan aktivitas yang terasa menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan diri.
Mengayuh Sepeda dari Tampaksiring
Acha memulai perjalanan bersepedanya dari Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Bali.
Sepanjang perjalanan, ia melewati jalan dengan kontur naik dan turun serta sejumlah pura yang menjadi bagian dari lanskap kawasan tersebut. Beberapa kali Acha berhenti untuk menikmati suasana di sekitar pura yang ditemuinya.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan dengan ritme perlahan.
Alih-alih hanya memikirkan tujuan akhir, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk melihat detail di sepanjang perjalanan—pepohonan, bangunan, aktivitas masyarakat, hingga perubahan suasana dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
Dalam konteks me time, perjalanan seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk keluar sejenak dari ritme keseharian yang biasanya serba cepat.
Persawahan Hijau yang Membuat Perjalanan Lebih Tenang
Bali tidak hanya menawarkan pantai.
Dalam perjalanan Acha, hamparan persawahan hijau justru menjadi salah satu panorama yang menemani aktivitas bersepedanya. Suasana pedesaan yang asri dan sejuk disebut membuat Acha merasa rileks selama perjalanan.
Pemandangan tersebut memberikan suasana berbeda dari kehidupan perkotaan yang identik dengan lalu lintas, pekerjaan, dan berbagai agenda.
Tak perlu selalu mencari aktivitas yang rumit untuk mendapatkan waktu berkualitas. Berada di tengah alam, menikmati udara terbuka, dan membiarkan perjalanan berlangsung tanpa banyak tuntutan pun dapat menjadi bentuk istirahat dari kesibukan.
Menyapa Warga di Sepanjang Jalan
Perjalanan Acha tidak sepenuhnya berlangsung dalam kesendirian.
Saat bersepeda, ia terlihat berinteraksi dengan masyarakat sekitar, termasuk menyapa anak-anak yang tengah bermain.
Momen tersebut memberikan warna lain pada perjalanan.
Menikmati waktu untuk diri sendiri bukan berarti harus menarik diri dari lingkungan. Sebaliknya, pengalaman personal juga bisa hadir dari perjumpaan sederhana dengan orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.
Senyuman, sapaan singkat, ataupun berhenti sejenak untuk memperhatikan kehidupan sekitar sering kali menjadi bagian perjalanan yang justru paling mudah dikenang.
Perempuan Aktif Tak Harus Selalu Mengejar Target
Aktivitas fisik terkadang diasosiasikan dengan target tertentu—mulai dari jarak, kecepatan, hingga pencapaian bentuk tubuh.
Namun, perjalanan Acha memperlihatkan sisi yang lebih santai.
Bersepeda dapat pula dilakukan karena memang menyenangkan.
Tidak harus selalu tentang seberapa jauh seseorang mampu mengayuh atau seberapa cepat mencapai tujuan. Ada kalanya aktivitas fisik menjadi sarana menikmati pemandangan, menenangkan ritme keseharian, dan memberikan perhatian kepada diri sendiri.
Pendekatan tersebut terasa relevan bagi perempuan yang ingin tetap aktif tanpa mengubah setiap aktivitas menjadi sebuah kompetisi.
Berhenti dan Menikmati Momen
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Acha adalah kebiasaannya berhenti di beberapa titik yang menarik perhatian.
Ia tidak sekadar terus mengayuh sepeda menuju tujuan akhir. Ketika menemukan pura atau pemandangan yang memikat, ia memberi dirinya kesempatan untuk berhenti dan menikmati suasana.
Kebiasaan sederhana tersebut memiliki makna tersendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan kerap berhadapan dengan berbagai jadwal dan tanggung jawab yang datang silih berganti. Karena itu, kemampuan untuk berhenti sejenak—tanpa merasa harus terus produktif—dapat menjadi bagian penting dari menikmati waktu pribadi.
Liburan pun tidak harus dipenuhi daftar kegiatan panjang.
Terkadang, pengalaman justru menjadi lebih menyenangkan ketika ada cukup ruang untuk spontanitas.
Menutup Perjalanan dengan Sarapan di Kintamani
Setelah menempuh perjalanan dengan sepeda, Acha akhirnya berhenti di sebuah kafe di kawasan Kintamani.
Di tempat tersebut, ia menikmati sarapan dengan Gunung Batur terlihat indah di kejauhan.
Momen itu terasa seperti penutup sederhana yang sempurna setelah perjalanan panjang.
Tidak ada agenda yang terlalu rumit. Hanya perjalanan dengan sepeda, panorama Bali, lalu waktu untuk duduk dan menikmati makanan dengan latar pegunungan.
Ada keseimbangan antara bergerak dan berhenti, antara menjelajah dan beristirahat.
Self-Care Tidak Memiliki Satu Bentuk
Cerita perjalanan Acha Septriasa dapat menjadi pengingat bahwa self-care tidak memiliki formula tunggal.
Sebagian perempuan merasa kembali berenergi setelah beristirahat. Sebagian lainnya menemukan ketenangan ketika melakukan aktivitas yang disukai.
Bagi Acha, bersepeda tampaknya menjadi salah satu kegiatan yang dekat dengan kesehariannya. Aktivitas yang juga kerap ia lakukan di Sydney tersebut tetap menjadi pilihannya ketika menikmati liburan di Bali.
Yang menarik bukan seberapa jauh ia bersepeda, melainkan bagaimana sebuah kebiasaan yang disukai dapat dibawa ke berbagai situasi dan tetap memberikan pengalaman berbeda.
Memberi Ruang untuk Menikmati Diri Sendiri
Di tengah kesibukan, perempuan kerap menjalankan banyak peran sekaligus. Karena itu, menyediakan ruang untuk aktivitas yang benar-benar dinikmati dapat menjadi bagian berharga dari keseharian.
Tidak harus berupa perjalanan jauh atau liburan mewah.
Waktu untuk diri sendiri dapat hadir melalui aktivitas sesederhana berjalan kaki, menikmati sarapan tanpa terburu-buru, berolahraga, berada di tengah alam, ataupun melakukan hobi yang sudah lama tertunda.
Perjalanan Acha di Bali memberikan satu gambaran tentang hal tersebut.
Dari mengayuh sepeda melewati Tampaksiring, menikmati kehijauan persawahan, berhenti di depan pura, menyapa warga, hingga akhirnya sarapan dengan panorama Gunung Batur, semuanya berlangsung sebagai rangkaian pengalaman sederhana.
Pada akhirnya, me time mungkin bukan tentang menjauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati hidup dengan ritme yang terasa paling nyaman.